

Kayaknya makan ini paling sering ditemui dipinggir jalan klo malem hari dan anehnya laku terus. Jadi sebetulnya orang-orang itu butuh makanan yang cepet saji panas dan mengandung unsur daging baik merah maupun putih. Perkiraan barusan belum tentu betul juga sih, mungkin saja orang seneng karena gaya masak yang dibakar alias barbekue atau mungkin sambal kacang campur kecap manis yang kental membuat cita rasa jadi sedap. Tapi yang pasti dimanapun klo kita jalan makan sate ayam dan sate kambing pasti ada. Bisa jadi juga karena makan ini yang ada alias tidak ada pilihan. Memang kondisi demand and supply sangat mempengaruhi gaya beli konsumen, sehingga yang semula mungkin mempunyai keinginan lain bisa jadi karena tidak ada supply yang memenuhi keinginan itu maka demand yang ada disesuaikan dengan supply yang tersedia. Contoh yang lebih nyata saat berbelanja di mall atau supermarket banyak konsumen sebenarnya membeli barang yang tidak betul-betul mereka perlukan. Mereka membeli karena dorongan supply yang menciptakan demand. Keunikan inilah sebetulnya menjadi pokok manajemen marketing satu sisi supply memenuhi demand tapi juga sisi lain supply yang menciptakan demand. Konsep penawaran jelas menjadi berbeda, gitu juga konsep komunikasi berbeda pula. Maka muncullah sebuah model manajemen marketing PULL and PUSH konsep.
Archive for 2009|Yearly archive page
Sate Ayam dan Sate Kambing
Dalam kaki lima di Agustus 4, 2009 pada 2:09 amJajan jadul jadi trendy
Dalam kaki lima di Juli 21, 2009 pada 9:27 amJaman dulu ada jajanan yang populer di kalangan bawah yang kini menjadi naik daun kekelas atas atau minimal menjadi penganan kelas tengah yaitu surabi dan cireng. Sebetulnya tidak ada yang meramalkan bahwa makanan jadul tersebut bisa menjadi terkenal seperti sekarang kalau bukan karena kreatifitas dan berani mencoba sesuatu yang baru. Sebetulnya kreatifitas dan keberanian belumlah cukup untuk mengangkat suatu produk menjadi terkenal. Disinilah peran manajemen menjadi sangat penting. Walaupun itu dilakukan secara sederhana tapi jika itu dilakukan dengan benar maka akan menjadikan sebuah kesuksesan. Jadi apa peranan Manajemen pada surabi dan cireng yaitu terletak pada kemampuan produsen menebak trend / keinginan pembeli, kemudian dengan konsisten terus memperkenalkan produk ke pelanggan
manajemen warung kaki lima
Dalam kaki lima di Juli 13, 2009 pada 12:38 am
kaki lima atau istilah sekarang ukm atau entah istilah apalagi yang pada kenyataannya adalah suatu bentuk usaha yang dilakukan oleh perorangan untuk memperoleh uang dengan menjual sesuatu barang atau jasa dengan modal seadanya. Kata kaki lima sendiri diambil dari lokasi penjajaan yaitu di kaki lima alias trotoar dan sering menjadi bulan-bulanan petugas satpol pp. Mang ujang adalah penjaja kueh robur haha … itu lho kueh yang dimasak diatas besi bentuknya kotak adonannya tepung terigu yang diberi gula .. murah meriah tapi kenyang merupakan santapan pagi hari sebelum masuk sekolah.. nama robur katanya diambil dari bis kota buatan india jaman dulu JADUL TEA .. ngobrol manajemen mungkin mang ujang teu ngartos naon manajemen teh tapi dia sudah melakukannya buktinya sampai sekarang dia masih eksis berjualan. Dia juga tidak ngerti gimana laporan neraca atau posting keuangan .. tapi semua sudah jalan seperti air mengalir .. kadang2 ayaan istilah untung / profit tapi rugel alias loss sudah ada dalam kamus mang ujang teh. Persoalan yang ingin dibahas disini adalah jadi sebetulnya manajemen itu sudah menjadi bagian kehidupan manusia dan diajarkan secara turun menurun. Mungkin mang ujang tau cara ngitung modal dan sebagainya turun menurun dari bapaknya yang juga dulunya tukang kueh robur , sementara teknik belanja barang dari ibunya yang selalu kepasar untuk membeli persediaan yang sekarang diturunkan ke istri mang ujang. Soal pemasaran teu ngartos naon artinya pemasaran tapi dia tahu gimana cara untuk menarik pembeli seperti : harus membuat kueh robur yang enak, lokasi jualan tepat diujung tempat jogging track cikapayang yang dekat sekolah, gerobak seadanya tapi bersih, warna mencolok yang tujuannya mengundang ketertarikan orang, pelayanan yang ramah bahkan mang ujang sampai hafal nama-nama pembeli langganannya. Jadi kesimpulannya ilmu manajemen ini masihkah perlu diajarkan diperguruan tinggi sementara pedagang kaki lima pun sebenarnya sudah mengenal sejak dia mengerti tentang kebutuhan sandang, pangan dan papan. Adakah salah dalam kurikulum perguruan tinggi ini? kalau menurut saya seharusnya sejak sekolah menengah pertama mereka sudah diajari tentang manajemen sederhana agar dunia kerja minimal sudah mereka kenal sejak dini.

